Galeri Photo Terbaru
Kalender
16 November 2018
M
S
S
R
K
J
S
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8

BISNIS DAN ETIKA BISNIS DALAM ISLAM

Tanggal : 31-12-2017 00:35, dibaca 72 kali.

A.    Pendahuluan

Ungkapan kata bisnis sudah sangat familiar dikalangan masyarakat luas. Karena segala bentuk usaha masyarakat yang berkaitan dengan transaksi yang menghasilkan uang, semuanya tidak jauh dari istilah bisnis. Bisnis yang berkembang dimasyarakatpun sangat beragam. Dari mulai bisnis pribadi sampai dengan bisnis bersama. Bisnis kemudian menjadi salah satu alternatif pilihan pekerjaan yang sangat diminati oleh masyarakat. Hal ini didukung oleh pemikiran masyarakat yang semakin cerdas bahwasanya sekarang bukan zamannya lagi untuk mencari pekerjaan, justru sebaliknya zaman sekarang adalah zamannya untuk menciptakan suatu lapangan pekerjaan. Tentunya hal ini tidak dapat pungkiri dengan ramainya aktifitas bisnis didalam masyarakat modern saat ini.

Melihat potensi yang kuat dalam kata “bisnis” pelaku bisnis baik muslim maupun nonmuslim sama-sama berusaha dalam mendapatkan keberhasilan. Sehingga seringkali terjadi persaingan bisnis yang sengit antar sesama pelaku bisnis. Sedangkan dalam prakteknya, persaingan bisnis seringkali diwarnai dengan tindakan-tindakan yang dinilai tidak terpuji. Contohnya ketika muncul sebuah persaingan bisnis maka masing-masing pelaku bisnis seringkali menggunakan berbagai cara untuk bisa mengalahkan saingannya. Disinilah yang seringkali menjadikan bisnis adalah suatu pekerjaan yang kejam karena dinilai tidak mengindahkan toleransi dan juga semena-mena terhadap sesamanya. Hal ini tentu membawa dampak yang kurang baik didalam masyakarat, baik dalam lingkup yang kecil sampai dengan lingkup yang lebih besar. Sehingga muncul sebuah istilah yang berkaitan dengan kejamnya dunia bisnis dengan sebutan “yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin”. Tentu ini dapat menjadi sindiran bagi pelaku bisnis yang semena-mena terhadap pelaku bisnis lainnya atau masyarakat disekitarnya.

Banyak orang yang menyangkal terhadap perlunya etika bisnis bagi perusahaan karena didalam visi misi perusahaan siapapun yang terlibat dalam mengelola perusahaan adalah tidak mewakili kepentingan masyarakat, melainkan hanya sebatas kepentingan pribadinya yaitu untuk memperoleh gaji atau pendapatan sesuai dengan apa yang diharapkannya serta mewakili kepentingan perusahaaan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dan berkelanjutan. Namun dalam perjalanannya perusahaan dan karyawan ini memerlukan sebuah etika standar yang nantinya dapat dijadikan panduan umum secara keseluruhan. Alasannya adalah suatu kinerja akan berbuah maksimal apabila pelakunya menerapkan etika dan moral yang baik. Hasil penelitian mutakhir dari banyak ahli membuktikan bahwa banyak perusahaan berkembang dengan pesat dan tahan terhadap krisis karena menjalankan etika bisnis.[1]

Dalam kajian Islam, bisnis bukanlah suatu hal yang asing bahkan kata bisnis sangat mudah dijumpai. Aktifitas bisnis sendiri didalam ajaran agama Islam sangatlah dianjurkan. Karena salah satu pintu kesuksesan diyakini adalah dari pintu yang didalamnya termasuk bisnis itu sendiri. Kaitannya dengan ini aktifitas bisnis adalah salah satu bagian dari praktek bermuamalah. Dalam bermuamalah sendiri tentunya ada prinsip atau tata cara berbisnis secara Islam. Namun sebelumnya perlu dikaji terlebih dahulu mengenai bagaimana Islam itu sendiri memandang kegiatan bisnis. Sehingga akan lebih jelas ketika seorang muslim ingin mempraktekkan suatu bisnis. Jadi tidak ada lagi keraguan mengenai praktek bisnis antara bisnis yang halal atau bisnis yang haram atau bisnis yang Islami dan non Islami.

Merujuk pada tulisan diatas, yang pertama harus dipahami oleh para pelaku bisnis antara lain adalah tentang pengertian dari bisnis itu sendiri, kemudian tentang pembidangan bisnis, serta terkait makna etika didalam bisnis. Apabila ingin menjadi salah satu dari pelaku bisnis selain dituntut untuk belajar bagaimana cara berbisnis berikut mengembangkan bisnis, juga dianjurkan untuk belajar bagaimana berbisnis secara Islami bagi pelaku bisnis muslim khususnya, dan juga belajar mengenai etika dan prinsip berbisnis dalam Islam. Yang hal tersebut diatas akan dibahas dalam kajian pada makalah ini.

 

B. Pengertian

Dalam kamus Bahasa Indonesia, bisnis diartikan sebagai usaha dagang, usaha komersial didunia perdagangan, dan bidang usaha. Bisnis adalah sebuah aktivitas yang mengarah pada peningkatan nilai tambah melalui proses penyerahan jasa, perdagangan atau pengolahan barang (produksi).[2][2] Skinner mengatakan bisnis adalah pertukaran barang, jasa atau uang yang saling menguntungkan atau memberi manfaat.[3][3] Barang yang dimaksud adalah suatu produk yang secara fisik memiliki wujud (dapat diindra), sedangkan jasa adalah aktivitas-aktivitas yang memberi manfaat kepada konsumen atau pelaku bisnis lainnya.

Dari semua definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa suatu organisasi atau pelaku bisnis akan melakukan aktivitas bisnis dalam bentuk pertama, memproduksi dan atau mendistribusikan barang dan jasa; kedua, mencari profit; ketiga, mencoba memuaskan keinginan konsumen.[4][4]

Bisnis adalah sebuah aktifitas yang mengarah pada peningkatan nilai tambah melalui proses penyerahan jasa, perdagangan atau pengolahan barang (produksi). Menurut Yusanto dan Wijayakusuma, lebih khusus terhadap bisnis Islami adalah serangkaian aktifitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah kepemilikan hartanya (barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi dalam cara memperolehnya dan pendayagunaan hartanya karena aturan halal dan haram.[5][5]

Dari definisi diatas dapat dibedakan terkait bisnis secara umum dan bisnis Islami yaitu ketika dalam suatu bisnis baik umum maupun Islami tidak dibatasi jumlah nilai kepemilikan berikut profit yang didapatkan. Namun, dalam bisnis Islami dibatasi terkait bagaimana cara memperolehnya yaitu dengan jalan yang baik atau tidak. Serta dibatasi juga terkait penggunaan hartanya yaitu untuk kebaikan atau keburukan. Kesemuanya itu terbatasi oleh ketentuan syar’i yaitu tentang aturan terkait halal dan haram. Sedangkan dalam bisnis umum segalanya adalah tidak terbatasi sehingga cara memperoleh serta pendayagunaannya tidak terikat aturan sebagaimana bisnis Islami.

Secara umum terdapat empat jenis input yang digunakan oleh pelaku bisnis,[6][6] antara lain:

  1. Sumber daya manusia, yang sekaligus berperan sebagai operator dan pengendali organisasi bisnis.
  2. Sumber daya alam, termasuk tanah dengan segala yang dihasilkannya.
  3. Modal, meliputi keseluruhan alat dan perlengkapan serta dana yang digunakan dalam produksi dan distribusi barang dan jasa.
  4. Enterpreneurship, yang mencakup ketrampilan dan keberanian untuk memgombinasikan ketiga faktor produksi diatas untuk mewujudkan suatu bisnis dalam rangka menghasilkan barang dan jasa.

 

C. Pandangan Islam terhadap Bisnis

Penekanan perintah menggunakan hidup didunia ini dengan giat berusaha dan bekerja yang tak terlewatkan untuk mendapatkan imbalan di dunia dan di akhirat, karena setiap usaha dan amal itu disaksikan oleh Allah,[7][7] sebagaimana firman-Nya.

È@è%ur (#qè=yJôã$# “uŽz|¡sù ª!$# öä3n=uHxå ¼ã&è!qß™u‘ur tbqãZÏB÷sßJø9$#ur ( šcr–ŠuŽäIy™ur 4’n<Î) ÉOÎ=»tã É=ø‹tóø9$# Íoy‰»pk¤¶9$#ur ä3ã¥Îm7t^ã‹sù $yJÎ ÷LäêZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÉÎÈ  

  

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.[8][8]

 

Dari ayat ini, nampak sekali bahwasanya Islam sangat mendukung terhadap kegiatan bisnis (bekerja). Bahkan Allah menekankan dalam bentuk kata kerja “bekerjalah” yang dari kata itu dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa kegiatan bisnis dianjurkan dan tentunya diperbolehkan dalam Islam. Adapun mengenai bagaimana bisnis yang dianjurkan dalam Islam akan dibahas pada pembahasan selanjutnya.

Disisi lain, Rasulullah SAW sangat menekankan kepada seluruh umatnya, agar tidak menjadi umat yang pemalas dan suka meminta-minta. Pekerjaan apapun walaupun tampak hina dimata banyak orang, jauh lebih baik dan mulia dari pada harta yang diperoleh dengan cara meminta-minta atau diperoleh dengan cara yang tidak halal.[9][9]

Al-Qur’an dalam mengajak manusia untuk mempercayai dan mengamalkan tuntutan-tuntutannya dalam segala aspek kehidupan seringkali menggunakan istilah-istilah yang dikenal dalam dunia bisnis, seperti jual-beli, untung-rugi, dan sebagainya.[10][10] Didalam Al-Qur’an Surat at-Taubah ayat 111 disebutkan:

¨bÎ) ©!$# 3“uŽtIô©$# šÆÏB šúüÏZÏB÷sßJø9$# óOßg|¡àÿRr& Nçlm;ºuqøBr&ur  cr'Î ÞOßgs9 sp¨Yyfø9$# 4 ..... ô`tBur 4†nû÷rr& ¾ÍnωôgyèÎ šÆÏB «!$# 4 (#rçŽÅ³ö6tFó™$$sù ãNä3Ïèø‹u;Î “Ï%©!$# Läê÷ètƒ$t ¾ÏmÎ 4 šÏ9ºsŒur uqèd ã—öqxÿø9$# ÞOŠÏàyèø9$# ÇÊÊÊÈ  

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin harta dan jiwa mereka dan sebagai imbalannya mereka memperoleh syurga..... Siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) Allah maka bergembiralah dengan jual beli yang kamu lakukan itu. Itulah kemenangan yang besar.[11][11]

 

Dijelaskan pula bahwa al-Qur’an tidak memberi peluang bagi seorang muslim untuk menganggur sepanjang saat yang dialami dalam kehidupan dunia ini. Seperti yang disebutkan dalam Surat al-Insyirah ayat 7 : Faidza faraghta fanshab. Sebelum ayat ini dijelaskan: sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, yang disebut dua kali, merupakan prinsip tidak adanya keputusasaan (dalam bekerja). [12][12]

Selain itu bekerja oleh al-Qur’an dikaitkan dengan iman. Seperti dalam al-Qur’an Surat al-Jumu’ah ayat 9-10.

$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) š”ÏŠqçR Ío4qn=¢Á=Ï9 `ÏB ÏQöqtƒ ÏpyèßJàfø9$# (#öqyèó™$$sù 4’n<Î) ̍ø.ÏŒ «!$# (#râ‘sŒur yìø‹t7ø9$# 4 öNä3Ï9ºsŒ ׎öyz öNä3©9 bÎ) óOçGYä. tbqßJn=÷ès? ÇÒÈ   #sŒÎ*sù ÏMuŠÅÒè% äo4qn=¢Á9$# (#rãÏ±tFR$$sù ’Îû ÇÚö‘F{$# (#qäótGö$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.øŒ$#ur ©!$# #ZŽÏWx. öä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÉÈ  

 

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah SWT dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan sembahyang maka bertebaranlah dimuka bumi dan carilah karunia Allah SWT dan ingatlah banyak-banyak supaya kamu beruntung.[13][13]

 

Ayat ini memberi pengertian agar berbisnis (mencari kelebihan karunia Allah) dilakukan setelah melakukan shalat dan dalam pengertian tidak mengesampingkan dan tujuan keuntungan yang hakiki yaitu keuntungan yang dijanjikan Allah. Oleh karena itu, walaupun mendorong melakukan kerja keras termasuk dalam berbisnis,   al-Qur’an menggaris bawahi bahwa dorongan yang seharusnya lebih besar bagi dorongan bisnis adalah memperoleh apa yang berada disisi Allah.[14][14]

Jadi jelas bahwasanya didalam al-Qur’an perintah untuk melakukan suatu pekerjaan (bisnis) memang ada dan dianjurkan. Sehingga tidak ada keraguan lagi bahwa Islam memperbolehkan untuk melakukan suatu kegiatan bisnis. Justru Islam sangat tidak mengharapkan apabila ada seorang muslim yang menganggur dan bermalas-malasan. Selain itu, dalam al-Qur’an juga telah dijelaskan bahwa melakukan kegiatan bisnis dalam pandangan Islam, tidak hanya semata-mata untuk mencari keuntungan yang sebanyak-banyaknya namun semata-mata karena ingin mendapat ridho dari Allah. Sehingga sangatlah tidak diinginkan apabila ada orang yang berbisnis dengan giat namun justru dalam ibadah kepada Allah sangat jarang dilakukan atau bahkan ditinggalkan.

 

 

D.  Bidang-Bidang Bisnis

Bidang-bidang dalam bisnis mencakup tiga hal yaitu bidang jasa, bidang perdagangan, dan bidang manufaktur/ pabrik.

1. Bidang Jasa, bidang ini lebih pada pelayanan jasa yang berawal dari jasa tersebut akhirnya dapat memberikan profit, diantara adalah:

-   Jasa dalam bidang keuangan

-   Jasa Transportasi

-   Jasa Pengiriman

-   Jasa Telekomunikasi

-   Jasa Konseling

-   Jasa Umum

-   Dll.

2. Bidang perdagangan, bidang ini adalah aktifitas bisnis yang secara khusus terjadi transaksi jual dan beli sehingga dapat menjadikan berpindahnya suatu barang/ kepemilikan. Diantaranya adalah:

-   Jual beli Motor/ Mobil

-   Makanan dan minuman

-   Fashion

-   Segala bentuk transaksi jual beli, dll.

3. Bidang manufaktur/ Pabrik, bidang ini adalah bagian dari bisnis yang secara khusus memproduksi barang baik dalam jumlah yang kecil maupun besar. Diantaranya adalah:

-   Pabrik Textile

-   Pabrik Rokok

-   Pabrik Furniture

-   Pabrik Makanan

-   Pabrik Minuman

-   Pabrik Bahan Bangunan

-   Pabrik Kendaraan Bermotor

-   dll

 

E.  Makna Etika didalam Bisnis

Pada dasarnya, etika berpengaruh terhadap para pelaku bisnis, terutama dalam hal kepribadian, tindakan dan perilakunya. Etika ialah teori tentang perilaku perbuatan manusia, dipandang dari nilai baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. Etika lebih bersifat teori yang membicarakan bagaimana seharusnya, sedangkan moral lebih bersifat praktik yang membicarakan bagaimana adanya. Etika lebih kepada menyelidik, memikirkan dan mempertimbangkan tentang yang baik dan buruk sedangkan moral menyatakan ukuran yang baik tentang tindakan manusia dalam kesatuan social tertentu.[15][15]

Ihwal pentingnya etika dalam bisnis, A. Sonny Keraf, mengatakan, “Jika bisnis tidak punya etika, apa gunanya kita berbicara mengenai etika dan apa pula gunanya kita berusaha merumuskan berbagai prinsip moral yang dapat dipakai dalam bidang kegiatan yang bernama bisnis. Paling tidak adalah tugas etika bisnis untuk pertama-tama memperlihatkan bahwa memang bisnis perlu etika, bukan hanya berdasarkan tuntutan etis belaka melainkan juga berdasarkan tuntutan kelangsungan bisnis itu sendiri.[16][16]

Etika bersama agama berkaitan erat dengan manusia, tentang upaya pengaturan kehidupan dan perilakunya. Islam meletakkan “Teks Suci” sebagai dasar kebenaran, sedangkan filsafat Barat meletakkan “Akal” sebagai dasar.[17][17] Etika dapat didefinisikan sebagai seperangkat prinsip moral yang membedakan yang baik dari yang buruk. Etika adalah bidang ilmu yang bersifat normatif karena ia berperan menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan oleh seorang individu. Etika bisnis, kadangkala merujuk pada etika manajemen atau etika organisasi, yang sederhana membatasi kerangka acuannya pada konsepsi sebuah organisasi.[18][18] Secara sederhana mempelajari etika dalam bisnis berarti mempelajari tentang mana yang baik atau buruk, benar atau salah dalam dunia bisnis berdasarkan kepada prinsip-prinsip moralitas.[19][19]

 

Learning what is right or wrong, and then doing the right thing. “Right thing” based on moral principle, and others believe the right thing to do depends on the situation.[20][20]

 

Dalam Islam, istilah yang paling dekat berhubungan dengan istilah etika didalam al-Qur’an adalah khuluq. Tindakan yang terpuji disebut sebagai shalihat dan tindakan tercela disebut sayyi’at.[21][21] Teori etika Islam pasti bersumber dari prinsip keagamaan. Teori etika yang bersumber dari keagamaan tidak akan hilang substansi teorinya. Keimanan menentukan perbuatan, keyakinan menentukan perilaku. Substansi utama tentang etika dalam Islam antara lain:[22][22]

1.   Hakikat Benar (birr) dan salah.

2.   Masalah Free Will dan hubungannya dengan kemahakuasaan Tuhan dan tanggung jawab manusia

3.  Keadilan Tuhan dan realitas keadilan-Nya dihari kemudian.

 

Etika Islam memiliki aksioma-aksioma,[23][23] yaitu:

1.   Unity (persatuan): konsep tauhid, aspek sosekpol dan alam, semuanya milik Allah, dimensi vertikal, dan menghindari diskriminasi di segala aspek, serta menghindari kegiatan yang tidak etis.

2.    Equilibrium (keseimbangan): konsep adil, dimensi horizontal, jujur dalam bertransaksi, tidak saling merugikan.

3.   Free will (kehendak bebas): kebebasan melakukan kontrak namun menolak laizez fire (invisible hand), karena nafs amarah cenderung mendorong pelanggaran sistem responsibility (tanggungjawab), manusia harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Apabila orang lain melakukan hal yang tidak etis tidak berarti boleh ikut-ikutan.

4.      benevolence (manfaat/ kebaikan hati): ihsan atau perbuatan harus yang bermanfaat.

 

Sejumlah pedoman umum menuntun kode etik Islam dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari maupun dalam bisnis. Kaum muslim dituntut untuk bertindak secara Islami dalam bisnis mereka karena Allah SWT akan menjadi saksi dalam setiap transaksi yang mereka lakukan.

$tBur ãbqä3s? ’Îû 5bù'x© $tBur (#qè=÷Gs? çm÷ZÏB `ÏB 5b#uäöè% Ÿwur tbqè=yJ÷ès? ô`ÏB @@yJt㠞wÎ) $¨Zà2 öä3ø‹n=tæ #·Šqåkà­ øŒÎ) tbqàÒ‹Ïÿè? Ïm‹Ïù 

 

Kamu tidak berada dalam suatu Keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya [....].[24][24]

 

Secara prinsip aktifitas bisnis didalam Islam tidak boleh lepas dari nilai-nilai spiritual. sebagaimana aktifitas bisnis tidak dapat terpisahkan dari nilai-nilai akhlaqi. Sehingga antara agama, etika dan bisnis saling berkaitan antara satu sama lain. Dalam hal ini bisnis yang menguntungkan adalah bisnis yang sesuai dengan ajaran Qur’ani yaitu yang didalamnya terdapat kolaborasi antara bisnis, etika dan agama.[25][25]

Dapat disimpulkan bahwa makna etika didalam bisnis sangatlah penting. Ini tidak hanya berlaku dalam bisnis Islam tetapi juga bisnis pada umumnya. Karena dengan adanya etika, aktifitas bisnis dapat berjalan rapi, seimbang dan tentunya dengan hasil yang memuaskan. Dengan adanya etika, maka aturan-aturan dalam dunia bisnis dapat terbentuk. Tentunya akan lebih utama apabila aturan-aturan dalam bisnis dapat menerapkan etika yang Islami sesuai dengan ajaran syar’i. Begitu pula dengan adanya etika, akan semakin menurun adanya praktik-praktik bisnis yang kejam serta bisnis-bisnis yang semakin membuat orang lain semakin miskin.           

 

F.  Kesimpulan

Prakek berbisnis sangat erat kaitannya dengan permasalahan etika. Hal ini yang seringkali menjadikan bisnis terkadang dianggap kejam, tidak berperikemanusiaan, dan sebagainya. Oleh karenanya Islam menginginkan bisnis haruslah berdasarkan pada etika. Karena apabila bisnis tidak diatur dalam etikanya seringkali bisnis menghalalkan segala cara. Dalam Islam etika bisnis sangat dijaga agar nantinya dalam prakteknya bisnis tetap dapat berada dalam koridor keIslaman dan tidak menyalahi aturan yang seharusnya.

Bisnis sendiri, dalam Islam diatur agar tetap mengedepankan etika. Sehingga pengertian bisnis dalam Islam adalah serangkaian aktifitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah kepemilikan hartanya (barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi dalam cara memperolehnya dan pendayagunaan hartanya karena aturan halal dan haram. Dalam hal ini jelas bahwa walaupun didalam Islam bisnis diperbolehkan atau bahkan sangat dianjurkan namun kesemuanya itu tidak boleh melebihi ketentuan syar’i yang telah ada atau dengan kata lain harus tetep memperhatikan halal dan haramnya. Terlebih pada cara memperoleh hasil dari bisnis tersebut dan juga pendayagunaanya terhadap hasil yang telah diperoleh.

Adapun mengenai pembidangan bisnis itu sendiri, dibagi menjadi tiga bidang yaitu bidang jasa, bidang perdagangan, dan bidang manufaktur atau pabrik. Dari ketiga ini tentunya akan terjabarkan menjadi beberapa bisnis lainnya yang tentunya tidak lepas dari definisi bisnis itu sendiri yang pada intinya adalah memberikan pelayanan/ jasa, jual beli dan juga produksi.

Etika berbisnis menurut Islam menyangkut tentang sedikitnya tiga hal. Yang pertama hakikat benar dan salah. Dalam hakikat benar dan salah seorang pelaku bisnis diharuskan mengetahui mana hal-hal dalam berbisnis yang diperbolehkan oleh agama dan mana yang tidak diperbolehkan dalam agama. Paham dalam membedakan mana bisnis yang halal dan mana yang haram. Serta dalam membedakan mana bisnis yang mengandung manfaat dan mana yang mengandung madharat. Kedua, tentang masalah free will dan hubungan kemahakuasaan Tuhan dan tanggung jawab manusia. Salam hal ini pelaku bisnis juga harus mengetahui dan memahami tentang kebebasan berkehendak dalam bisnis tanpa mengabaikan terhadap pertanggungjawaban kepada Allah. Apabila setiap orang yang berbisnis dapat selalu memegang pedoman ini tentunya pelaku bisnis akan benar-benar memperhitungkan setiap langkahnya sehingga walaupun bebas dalam menentukan pilihan bisnis berikut prakteknya dalam bertransaksi tentu tidak akan ceroboh dalam realitanya. Sehingga apa yang telah menjadi keputusan nantinya dapat dipertanggungjawabkan dan dapat menjadi sebuah pegangan dalam melakukan aktifitas lainnya. Ketiga, Keadilan Tuhan dan Realitas keadilan-Nya dihari kemudian. Hal yang ketiga ini menjadi puncak pengembaraan dalam berbisnis. Karena penentuan mengenai praktek bisnis yang selama ini dilakukan akan mendapatkan keadilan Tuhan. Tentunya realitas keadilan Tuhan akan ditunjukkan pada hari kemudian. Oleh karenanya dalam berbisnis haruslah benar-benar dikonsep secara sistematis, sesuai dengan apa yang telah dianjurkan oleh agama. Sehingga nantinya dari konsep berbisnis tersebut dapat dipertanggungjawabkan di depan Allah SWT.

Inti dari kesemuanya itu setelah mengetahui tentang bisnis secara Islami, kemudian mengetahui bidang-bidang bisnis yang dapat dijadikan sebagai peluang usaha serta mengetahui etika berbisnis dalam Islam, diharapkan nantinya pelaku bisnis dapat menjalankan bisnisnya secara halal, penuh berkah dan manfaat, serta dapat dipandang sebagai ibadah.

 



Pengirim : adm
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas